NEO REVOLUTION MANIFESTO
Hingga tulisan ini ditulis, jalan-jalan protokol di ibukota propinsi dan negeri ini masih digemuruhi suara penentangan terhadap berbagai kebijakan negara oleh mahasiswa. Meski tidak sedahsyat beberapa tahun ke belakang sehingga membuat penguasa kala itu terkencing-kencing, namun aksi-aksi yang dilakukan saat ini tak pelak membuat penguasa harus mengelap keringat dan memaksa keluarnya RUU Intelejen yang sarat dengan kontroversi.
Secara substansi, apa yang diserukan mahasiswa pasca ORBA dengan mahasiswa pasca REFORMASI tidak jauh berbeda. Intinya adalah ketidakpuasan-ketidakpuasan serta kekecewaan terhadap pola dan sistematika kerja pemerintah. Bukannya semakin populis tapi justru menjurus kepada keberpihakan pemerintah terhadap kaum borjuis pemilik modal kelas kakap. Akhirnya, berbekal teori yang diajarkan dosen di altar-altar universitas, secara moral, mahasiswa (tak tertutup kemungkinan bernilai politis) meneriakan tuntutan perubahan. Sangat wajar apabila mahasiswa berpendapat bahwa: perubahan merupakan antitesis yang akan selalu berhadapan dengan tesis sebelumnya. Dan begitu seterusnya. Sampai mati. Sampai bumi botak. Sampai galaksi batuk. Semua tesis pasti ada antitesisnya!.
Sampai tulisan ini dibuat pun (kalo ada yang mau menggagap dirinya revolusioner, silakan kumaha maneh we!) kita masih tetap menjadi pelacur-pelacur kapital. Sedangkan ideologi Kapitalisme, berperan sebagai germo yang memeras peluh serta seluruh hasil kerja kita dengan dalih –yang katanya-- untuk kita juga. Bah, bullshit!. Namun memang itulah yang teropinikan di tengah masyarakat. Pemahaman, perasaan dan perbuatan setiap individu diracuni oleh sistem berpikir kapitalis. Sehingga penyikapan atas situasi “borokokok” seperti ini dianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat. Jadolnya, meski banyak yang mengetahui kekurangajaran sistem ini namun mereka malah mengkambinghitamkan nasib dan keberuntungan yang tidak memihaknya. Sadis!, banyak rakyat kelaparan --sementara banyak makanan yang dihamburkan begitu saja oleh para borjuis kapitalis tadi-- mereka katakan; “ini nasib dan takdir kalian ho…ho…ho”.
Lalu untuk apa dan dimana peran penguasa?
Bukankah kelahiran penguasa berawal dari kontrak sosial di dalam tubuh masyarakat?
Lantas kenapa penguasa melupakan jeroan tubuh sendiri: masyarakat?
Jika penguasa kerap mengkambinghitamkan nasib dan takdir, maka wajar jika perjalanan panjang negeri ini bukannya menuju titik kejayaan melainkan semakin nutug menuju titik kulminasi kenistaan. Gak percaya?
Coba lihat, --sebelum suatu permasalahan rampung-- permasalahan baru yang semakin komplek bermunculan. Lihat saja ketika krisis moneter membuat rakyat miskin bengek eh … muncul kemudian bencana alam dimana-mana, eh … kontak senjata dan tindakan represif berlangsung di Aceh, eh … tiba-tiba ditangkap beberapa aktivis dengan dalih terikat jaringan terorisme internasional. Tak lama setelah itu… muncul VCD-VCD porno mahasiwa, goyangan ngebor Inul, dan VCD hidden camera -nya artis Indonesia. Bahkan lebih dari itu, --akibat kekosongan jiwa dan perut-- muncullah Sumanto, manusia kanibal dari Purbalingga, yang langsung digiring ke hotel prodeo. Ironisnya, kanibal ganas lain yang menghisap dan melahap uang rakyat dari negeri yang miskin ini justru bebas berkeliaran dan akhirnya rest in peace (hell exactly) di Australia. Kanibal lainnya nggak ada yang berani nangkep, eh… malah dikasih makanan terwelu, carrot R/D (Release and discharge) yang menjamin kebebasan para kanibal itu.
Lha, siapa yang buta, siapa yang goblog ?.
Kalo Sumanto si kanibal cenghos disuruh makan daging mentah --untuk membuktikan kekanibalannya-- kenapa kita tidak suruh kanibal --yang lebih ganas dari Sumanto--, makan duit mentah-mentah kayak di acara I Bet You Will, dengan sajian utamanya : memakan mobil-mobil mewah + bumbu semen dan bata-bata villa mereka di daerah resapan air Dago dan Puncak, hakan siah!. Kalau cegukan, sodoklah bebenguk (mulut) mereka dengan softdrink warna-warni yang dituangkan dari limbah pabrik industri. Tapi sebelum itu, mereka harus melodok hidangan penutup berupa : bulu-bulu ketek penguasa yang selama ini dijadikan tempat berlindung. Sok siah! Haseum haseum, utah-utah, weureu-weureu ... (Edan!, saya sadis banget yah?).
Penderitaan yang menimpa rakyat kecil merupakan kesalahan kolektif akibat kelemahan sistem, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kesalahan yang terjadi adalah akibat lemahnya iman/ khilaf individu saja, sebab permasalahan yang menggejala di tengah-tengah masyarakat secara holistik, meliputi politik, ekonomi, sosial-budaya, dll sangat tidak mungkin dikambinghitamkan kepada kelakuan individu saja.
Seorang individu berlaku demikian dikarenakan elemen-elemen yang ada disekitar dirinya mendukung dan memberikan kesempatan baginya untuk bersikap di luar batas tatanan dan norma yang ada. Jelas, fakta yang dilampirkan diatas bukan merupakan kesalahan individu belaka melainkan juga kesalahan besar sistem.
Suatu sistem pasti mempunyai kekuatan untuk menyebarkan, menjaga dan mempertahankan diri dari hal-hal yang bertentangan dengannya. Bila sistem tersebut lemah karena memang, lahir dari keterbatasan dan ketidak-mampuan, apa mau dikata?. Haruskah kita terhenti pada noktah hari ini saja? Atau kita lebih memilih dilindas ribuan nista tanpa mengeluarkan kemampuan untuk berteriak melawan? Jawaban semua itu tergantung pilihan kita. Opsinya adalah YA atau TIDAK!
Kebutaan masyarakat menyikapi semua fakta memberi arti bahwa institusi sosial masyarakat sudahlah tidak ada lagi. Sebab –mengakui atau tidak--, pada kenyataannya pengertian masyarakat jauh dari apa yang disebut sebagai masyarakat yang khas sehingga hal ini memustahilkan terjadinya satu kebangkitan yang hakiki.
Masyarakat yang khas terdiri dari kumpulan manusia yang terbentuk dari kesamaan-kesamaan pemikiran, perasaan serta aturan yang mengatur satu kesatuan sikap dan tindakan. Fakta masyarakat yang kita rasakan saat ini berlawanan dengan konsep masyarakat yang dapat mewujudkan kebangkitan hakiki. Lihat saja, ketika beberapa individu ditanyakan beberapa masalah fundamental, mereka berkata A, yang lainnya berpikiran B, bahkan ada yang bertentangan 180 derajat dengan A dan B. Perbedaan ini kontra produktif bagi keberlangsungan kehidupan sosial bermasyarakat. Permasalahan-permasalahan kompleks seperti itu tidak terjadi di negeri ini saja. Di negeri pencetus “demokrasi burununggul!” --AS dan setumbilanya (sekutu sudah bosan)— kini ketidak-khasan masyarakat menjadi konflik yang mengkristal.
Setelah keruntuhan sistem sosialisme, kapitalisme tidak mendapatkan rival yang dapat menjegal hegemoninya. Dengan tidak adanya rival bukan berarti kapitalisme yang paling digjaya dan paling benar secara sistemik. Sayangnya, perspektif bahwa kapitalis merupakan ide mumpunilah yang banyak dijadikan rujukan. Semua orang merasa bangga dan hebat apabila berbicara lantang dengan merujuk pada pemikiran-pemikiran kapitalisme --dan diasingkan manakala menentang kapitalisme global saat ini--. Kalangan cendikiawan akan merasa inferior jika dalam seminar-seminar dan diskusi publik tidak berbicara mengenai solusi permasalahan pembangunan tanpa mengambil invisible hand-nya Adam Smith dan besaran makro-nya Keynes. Orang akan diberi senyum sinis dan dianggap weird manakala ia menghardik trias politika, nation state, copyright, human right, globalization,dll. Gemerlapnya era kapitalisme menjadikan masyarakat lupa untuk mengkritisi ulang ide tersebut.
Lantas ketika kita melihat sosialisme/komunis yang ditabukan semenjak kisah gelap di masa revolusi dulu. Sehingga pemerintah menjadikannya sebagai bahaya laten atau cenang yang harus direndam dalam air garam (lewat kampaye pemberangusan sosialisme komunis dilakukan oleh pemerintah lewat perpanjangan tangannya –militer, pemuka agama, guru-guru SD hingga Perguruan Tinggi, dsb).
Apakah hal itu salah?
Tidak!. Hal ini benar 1000%. Duapuluh jempol buat mereka. Hanya sayang, --justru-- mereka (baca; pemerintah) malah menutup mata pada raja setan ablokotok yang ada dibokong. Raja setan yang jelas-jelas mengrogoti dompet dan daging empuk dari bokong kita yang ranum oleh lemak. Coba, pilih mana? Ngejar-ngejar setan kecil yang sudah lama dimasukan kedalam keranda atau memilih raja setan yang segede gajah bengkak di pelupuk mata, dilihat pakai kaca pembesar berjarak jarak satu meter, yang sedang asik memberi kita makanan dari kotorannya?. Sungguh malang ck…ck.., masih ada yang mau diberi makan kotoran padahal lebih baik makan ubi dan kentut (dari saripati ubi) daripada makan tai kemudian kentut (dari saripati tai yang dimakan). Sungguh! kentut pun tidak mungkin rela, jika kentutnya berasal dari tai --apalagi berasal dari tai raja setan--.
Tak heran bila di hari-hari kemudian, raja setan ketar-ketir takut ketahuan belangnya. Maka, demi menyelimuti rasa takutnya, raja setan mereka-reka cara dengan mencomot ide dari sana-sini dan melakukan tambal sulam atas kekurangan serta tindak kejahatan yang dilakukannya selama ini. Mulai saat itulah lahir kemudian fenomena new world order yang salah satu idenya mengakulturasikan isu-isu santapan lezat sosialisme/komunisme --seperti perburuhan, distribusi, kepemilikan, dll— menjadi bagian dari kapitalis. Mereka tahu bahwa tanpa berbuat demikian justru akan menjadikan stimulan bagi individu-individu kritis untuk menggalang sikap antipati masyarakat dunia. Walhasil, semua pengkaburan tersebut merupakan bukti nyata bahwa kapitalisme sangatlah lemah. Dan kelemahan tersebut ditampakkan oleh kinerja sistem kapitalisme yang membuat Amerika Serikat --saat ini-- mengalami resesi akibat anjloknya pasar saham yang mereka ciptakan. Begitu pula dengan rapuhnya sistem mata uang yang tidak distandarkan pada logam mulia (emas dan perak) sehingga uang tidak ada artinya selain kertas begitu saja.
Karena kebobrokan kapitalisme jugalah para pemilik kapital berusaha dengan giat meminimalisir kerugian yang mereka dapat. Salah satu jalannya, dengan menghisap negeri lain yang memiliki kekayaan besar seperti negeri tercinta ini dan negeri-negeri dunia ketiga—1) .Serta banyak kelemahan lainnya yang tak mungkin dituliskan di dalam zine ini.
Pemikiran-pemikiran Kapitalis berulang-ulang terus dijejalkan pada otak kita. Sejarah berikut teori-teori akademis sengaja di jadikan alat untuk meghapus nalar-nalar kritis. Bahkan para penguasa yang pasrah pada para kapitalis, apatis terhadap perubahan yang disuarakan rakyat. Pada faktanya, --jangankan perubahan-- nasihat bijak yang mahasiswa lontarkan terkadang dianggap sebagai angin lalu atau bahkan senjata terkokang yang siap menghancurkan tubuh mereka. Dan sesuatu yang baik bagi penguasa dan rakyatnya pun, terkadang menjadi tindakan delik, subversif teroris yang layak ditindak represif.
Sayangnya, kritikan kaum reformis terhadap penguasa tidak menyentuh akar-akar permasalahan yang ada. Kaum reformis mengusung jargon perubahan parsial (reformasi), padahal disatu sisi mereka mencaci maki kebejatan kapitalisme. Dengan perubahan tambal sulam, perjalanan perubahan akan tersendat setengah matang. Terlebih, apabila dalam mekanisme perubahan, terjadi kompromistik yang akan menjadikan solusi permasalahan tidak bersifat fundamental. Untuk membuktikan hal ini, lihat saja aktivis gerakan yang disibukan oleh alternatif-alternatif revolusi seperti HAM, konservasi alam, pergantian pucuk pimpinan, atau muncul pula bisnis-bisnis “halal” (contoh; Bodyshop) yang menjustifikasi belanja tanpa rasa salah, dengan jargon : “belanja pada mereka berarti menyelamatkan dunia”. Mereka (aktivis gerakan) gagal menghantam inti permasalahan, sebab tidak menuntut perubahan radikal. Hanya perubahan kosmetik. Sehingga dengan memberi solusi parsial, mereka ikut mendewasakan dialektika dan hegemoni kapitalisme global.
Penanganan masalah-masalah diatas ibarat menambal genteng rumah yang kondisi rumahnya rusak berat (dinding reyot, pondasi hilang). Sehingga jika suatu saat datang angin kencang, orang yang memperbaikinya akan ikut tertimpa dinding dan atap rumah yang reyot tersebut. Oleh karena itulah, bukan genteng yang harus ditambal tapi runtuhkan rumah tersebut, kemudian dirikanlah rumah baru yang lebih kokoh, rumah yang lebih bersih, rumah yang lebih aman, rumah yang penuh fasilitas, rumah yang menjaga penghuninya luar dalam. Dalam artian, bahwa implementasi aksi yang sangat urgen dilakukan saat ini, adalah : menghancurkan sistem bobrok yang selama ini kita gunakan.
Kalaulah kita menginginkan revolusi, maka kita harus ikut melakukan perubahan. Sebab revolusi tidak akan datang begitu saja. Revolusi perlu diperjuangkan. Kecuali bila kita hanya mau jadi penonton dan sembunyi (karena revolusi bukan untuk seorang pecundang). Oleh karena itu, penolakan terhadap nilai-nilai yang menjadi pondasi tatanan masyarakat, harus terus diguncang. Kita harus straight to the point menghatam kapitalisme dengan membongkar kepercayaan masyarakat terhadap fondasi Kapitalisme itu sendiri. Kita harus memahamkan masyarakat bahwa ide nasionalisme, demokrasi, globalisasi, hak asasi manusia, privatisasi, pluralisme, pasar bebas, feminisme, pada faktanya adalah bullshit! yang jika ditelaah secara rasionalitas tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan --justru dengan diambilnya ide tersebut akan menambah masalah yang menguntungkan kapitalis--.
Kini saatnya kita melakukan reinterpretasi, bagaimana –seharusnya-- revolusi dilakukan. Kita tidak akan mencomot ide nasionalisme, demokras etc diatas untuk dijadikan sandaran bagi titik awal gerakan revolusi sebab “mana mungkin ada ideologi yang mau menikam tubuhnya dengan senjatanya sendiri?” (paling-paling kita diberi diberi senjata mainan).
Revolusi harus dilakukan secara kolektif (bahu-membahu antar individu) dan holistik (menyeluruh) sebab perjuangan reaksioner akan menyita perhatian dan waktu kita dari masalah akut. Adalah hal yang benar manakala --saat ini--kita melakukan perlawanan terhadap kapitalisme & sosialisme berikut turunan-turunannya yang berdialektika mengbunglonkan diri. Kini saatnya kita tuntut sistem/ideologi baru. Sitem ideologis yang benar-benar hakiki. Sistem yang tidak berasal dari kebodohan akal manusia. Sistem yang mampu menyelesaikan semua persoalan manusia --karena pada awalnya sistem tersebut telah menjabarkan secara menyeluruh, hakikat manusia itu sendiri—artinya : sistem yang memelihara akal, jiwa, sesuai fitrah serta menentramkan perasaan manusia.
Pemuda seusia kita adalah sosok --yang dan-- harus revolusioner. Tidak bisa kita menolak kobaran api pemberontakan yang ada dalam tubuh –sebab penolakan atas kobar api pemberontakan merupakan penindasan terhadap jiwa revolusioner yang seharusnya ada dalam pemikiran dan perilaku pemuda--.
Kita harus merekayasa revolusi dengan : melakukan aktualisasi pemikiran/ide/nilai-nilai ideologi yang kita emban ke tengah-tengah masyarakat. Individu-individu yang tergabung dalam gerakan secara berkesinambungan, harus menambah wawasan dari berbagai disiplin ilmu. Jejali otak kita dengan teori materialisnya Marx, teori radikalisme berpikir ala Anthony Giddens, teori liberalisme pasar Antonio Gramsci, teori pendidikan untuk kebebasan Paulo Freire, teori teologi pembebasan Asghar ali Engineer, teori agresivitas manusia dari psikoanalisis kritis-nya Erich Fromm hingga konsep-konsep Jaringan Islam Liberal untuk dimengerti dan dicari kelemahan-kelemahannya, sehingga kita dapat mengetahui titik lemah ide yang akan kita hantam di diskusi dan seminar-seminar publik yang akan diadakan di tengah-tengah masyarakat. Lakukan transfer pemikiran --kepada orang-orang yang tergerak akal dan perasaannya untuk merekayasa revolusi-- sehingga mereka mengerti bahwa perjuangan yang harus dilakukan saat ini adalah perjuangan partai melalui perang pemikiran dan pergolakan politik yang pada klimaksnya akan mempolarisasikan perasaan, pemikiran, kebiasaan dan sistem yang sama pada satu kutub institusi.
Bentuklah kader-kader tangguh yang meyakini sepenuhnya kekokohan ideologi --yang akan menyerahkan komoditas jiwa, intelektual serta materi yang dimiliki-- sebab pada faktanya kader-kader tersebut akan berhadapan dengan masyarakat yang notabene memiliki banyak berbagai pemikiran dan derivat (cabang) ideologi –terlebih ideologi kapitalisme---. Keyakinan terhadap ideologi akan sangat berpengaruh bagi terlaksananya tahapan revolusi : pembenturan ide.
Pada dasarnya setaip ideologi begitupun para pengembannya akan berusaha menjaga, menerapkan dan menyebarkan ideologi tersebut keseluruh dunia. Sistem yang berlaku tidak mungkin diam melihat dirinya diobrak-abrik oleh sebab itulah sistem akan terus menerus menggerus idealisme seorang individu dengan pemikiran yang menjadi mainstream proses berfikir dan berpeasaan massyarakat. Oleh karena itu, perlulah dibentuk suatu kelompok atau partai yang beraktivitas secara politik yang bergerak diatas ideologi yang diemban. Partai harus bergerak diluar sistem pemerintahan agar ideologi yang ingin disampaikannya tidak tersendat oleh aturan yang berlaku di dalam sistem tersebut2)/ Partai harus anti kekerasan dan sebab dalih perjuangan menggunakan kekerasan justru akan memudahkan pemberian kambing hitam labelling3).
Perjuangan harus dilakukan ditengah-tengah masyarakat. Perjuangan-- membutuhkan inovasi yang dititik beratkan pada konsentrasi penyebaran ideologi melalui media massa --sebab hampir 90% informasi yang ada di dunia saat ini dikuasai kapital-- sehingga mau tidak mau objektivitas berita haruslah disesuaikan dengan perspektif pemilik modal3). Masyarakat akan bangkit manakala mau menerima dan paham dan mempercayai satu pemikiran, perasaan, serta serta aturan.
Masyarakat akan bangkit jika menyadari bahwa kebangkitan pemikiran hanya dimulai dengan pemahaman. Bukan dengan bantuan sosial, aktivitas sosial, atau seruan-seruan yang menentramkan hati sesaat. Kesadaran terhadap pemikiran akan menjadikan masyarakat menolak patuh terhadap sistem kapitalis yang menjerat mereka. Hukum dan undang-undang yang diterapkan tidak akan mampu membuat masyakat disiplin, patuh dan taat --kepadanya--, sebab masyakat sadar akan kebodohan penguasa. Para penguasa akan pusingan tujuh keliling deh! kalau asyarakat tidak mau menuruti lagi perintah mereka.. Sehingga mereka akan berfikir “rakyat mana yang mereka kuasai sedangkan semua masyarakat enggan menuruti?”. Akhirnya mau tidak mau penguasa akan tunduk terhadap tuntutan perubahan fundamental yang disuarakan masyarakat.
Timbulnya kesadaran ideologis, secara otomatis akan membentuk institusi yang akan menerapkan hukum dan undang-undang yang sesuai dengan ideologi yang diyakini. Di dalam institusi itulah masyarakat akan rela diperintah oleh hukum dan undang-undang tersebut dengan penuh ketaatan. Fakta telah banyak berbicara. Model revolusi seperti itulah yang berhasil membuat perubahan fundamental yang bearti bagi kebangkitan manusia. Contoh revolusi seperti yang akan menjadikan masyarakat memiliki kekhasan yang dapat membawa kebangkitan adalah : revolusi Islam yang dibawa Muhammad di Arab --yang sukses berjaya selama 13 abad--, Revolusi Perancis yang berhasil meluluh-lantakan kerajaan kala itu dengan slogan liberte, egalite, fraternite, serta revolusi Bolseviik yang dipraksai Trotsky, Lenin sehingga berhasil mengalang rakyat untuk meruntuhkan Tzar.
Inilah --saatnya bagi kita-- untuk mengakui bahwa kita membenci sistem yang diberlakukan. Inilah saatnya pemuda susia kita menjadi revolusioner. Inilah saatnya --bagi kita-- untuk bekerjasama dengan elemen-elemnen masyarakat yang ada, bekerjasama dengan mereka yang tertindas dan mulai membentuk jaringan organisasi. Semua harapan ada pada tangan kita, pada kekuatan rakyat, pada gerakan partai dan kekuasaan The Ultimate Reality.
Kita akan jadikan diri kita revolusioner. Kita akan jadikan diri kita sebagai individu yang memiliki tekad untuk menguasai dunia agar masyarakat yang ada di dalamnya mau diatur oleh aturan yang pernah mengatur dan memimpin dunia selama 13 abad. Mari bergerak saat ini juga.
Hey, man. We are not in the least bit afraid of ruins. We carry a new world, here in our brains and hearts. And the world is growing this minute
Salam Anti kekerasan
Salam Revolusi Pemikiran
Salam Kebangkitan Rakyat
Bandung, 17 Maret 2003 (setelah deklarasi perang AS diberitakan)
pengkhianatyangtelahmusnah
1) Berhubung tidak begitu saja negeri-negeri tersebut sepakat dengan ajakan para kapital, maka diperlukan strategi jitu agar mereka --negara dunia ketiga—mau dijadikan sapi perah kolonialis. Maka cara yang mereka untuk menguasai dunia yaitu dengan mengupayakan globalisasi agar pola pikir, perasaan dan perbuatan masyarakat sesuai dengan kapitalisme sehingga masyarakat akan mendukung secara tidak langsung derivat dari ide kapitalisme itu sendiri.
Keberpihakan kapitalisme hanya pada para pemilik modal. Faktanya para pemilik modal adalah mereka yang tergolong ke dalam komunitas negeri-negeri utara (baca; AS dan konco-koncone). Sedangkan dunia ketiga atau negeri-negeri selatan hanya berjaya pada kelebihan faktor produksinya saja kecuali modal. Hal ini terus berulang semenjak lahirnya kapitalisme hingga sekarang. Sejak keluarnya buku “wealth of Nation” hingga berangsur-angsur menuju Keynesian, Neo Kalsik, sampai Reinveting Government-nya Anthony Giddens, semua ide tersebut tetap tidak bergeming dari pemikiran awal kapitalisme.
Penciptaan hutang di setiap sudut-sudut negeri dengan bunga yang tinggi, intervensi melalui badan-badan boneka, penempatan penguasa-penguasa yang juga agen-agen mereka, pembuatan senjata serta diciptakannya peperangan agar senjata mereka laku, hingga dibuatnya stereotyping terhadap rival ideologis nerupakan hal lumrah yang menjadi sifat dasar sistem kapitalis.
Kalaulah jeli melihat, bahwasannya perang Afghanistan kemarin, Perang Teluk jilid III (nampaknya jadi) dengan naiknya harga-harga barang di Indonesia sebenarnya memiliki benang merah apabila dihubungkan dengan kapitalis yang mempunyai kepentingan akan ketiga hal tersebut.
2) Perjuangan melalui sistempun sama harus dihindari. Justru hal ini sama saja dengan menceburkan diri pada penggorengan ketika ingin memadamkan api yang dimasak oleh penguasa. Tentulah penguasa tidak akan tinggal diam, diamankanlah mereka yang menceburkan diri.Pilihan memasuki parlemen tidaklah ideologis dan tidak pula strategis –karena ideologi mempunyai strategi sebagai implikasi dari kesempurnaan ideologi yang diemban. Perjuangan di dalam parlemen dan sistem selalu gagal merevolusi (FIS di Aljazair yang telah memenangkan pemilu : dibatakan kemenangannya. Rage Against The Machine yang bergulir ke label mayor yang dikuasai kapital justru diekploitasi etc)
3) Penghacuran private property seperti yang dilakukan gerakan Black Block di AS dan beberapa kolektif di luar negeri justru membuat masyarakat antipati dan menjadikan gerakan ini dijatuhi delik pidana. Tindak kekerasan yang dilakukan gerakan Islam di luar negeripun kurang mendapat simpatik masyarakat sehingga aksi-aksi yang dilakukannya digolongkan sebagai aksi terorisme.
4) Dalih sebagai “media netral atau objektif” itu merupakan politik dagang sapi yang essensi sebenarnya adalah : mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Kini saatnya setiap individu membangun gerakan-gerakan resistensi dengan cara membangun media-media DIY (Do It Yourself) --tidak perlu semewah dan setebal media-media kapitalis yang beredar-- namun cukup dengan stensilan, (beberapa lembar pun tak apa) yang dapat dijalankan hanya dengan fasilitas seadanya.Cukuplah 3-5 orang membuat satu media. Bayangkan apabila suatu gerakan mempunyai 10.000 anggota dan 5 dari mereka membuat satu media! Sekitar 2.000 media akan diciptakannya. Anggaplah semua media stensilan dikalikan 100/edisi, jumlahnya menjadi 200.000 edisi. Satu edisi anggap 10 lembar jadi total 2.000.000 lembar. Jumlah sebanyak ini, cukup untuk menutup opini kapitalis di kota Bandung.